Cerita rakyat Riau yang kakak ceritakan malam hari ini adalah Dongeng Pendek Si Lancang yang sudah diceritakan rakyat Riau secara turun temurun. Legenda pendek si Lancang menjadi asal muasal beberapa nama daerah di sekita Sungai Kampar, Kepulauan Riau. Dongeng Pendek Si Lancang memiliki pesan moral yang baik, agar adik-adik selalu menghormati dan menyayangi orang tua. Apakah adik-adik penasaran dengan cerita rakyat pendek dari Riau ini? Yuk kita ikuti kisahnya bersama-sama. Dahulu kala di sebuah gubuk yang reot di negeri Kampar, Kepulauan Riau tinggalah seorang janda miskin dan seorang anak laki-lakinya yang bernama Si Lancang. Hidup mereka sangat miskin. Emak Si Lancang bekerja menggarap ladang orang lain sedangkan Si Lancang menggembalakan ternak tetangganya. Kemiskinan yang mereka alami terus berlanjut hingga bertahun-tahun lamanya, hingga pada suatu ketika Si Lancang merasa jenuh dan bosan hidup miskin, ia memutuskan untuk pergi merantau ke negeri orang, lalu Si Lancang meminta izin kepada Emaknya, “Mak, sudah bertahun-tahun kita hidup miskin. Aku ingin bekerja dan mengumpulkan uang,” ucap Si Lancang pada Emaknya, “Izinkan aku merantau ke negeri orang, Mak.” Dongeng Pendek Si Lancang Cerita Rakyat Daerah Riau Emaknya Si Lancang terkejut mendengar permintaan anaknya, “Nak, kalau kau pergi. Emak tinggal dengan siapa? Tetaplah di sini” ujar Emaknya keberatan. Si Lancang menghela napas,”Percayalah Mak, ini demi kebaikan kita, agar kita jadi orang kaya, aku mohon Mak, izinkanlah,” Si Lancang terus memohon. Akhirnya dengan berat hati Emaknya mengizinkan, “Baiklah, Emak izinkan, tapi jika kau sudah jadi orang kaya segeralah pulang ke sini. Jangan lupakan Emakmu” pesan Emaknya. “Benarkah Mak?” tanya Si Lancang meyakinkan, lalu Emaknya mengangguk. Si Lancang sangat gembira, ia meloncat-loncat dengan riang. Emak Si Lancang tampak sedih melihat anaknya akan pergi. Berjatuhan air matanya. Melihat hal itu, Si Lancang langsung mendekati dan memeluk Emaknya, “Emak, percayalah. Jika nanti aku sudah kaya, aku tidak akan melupakan Emak, jangan sedih Mak,” ucap Si Lancang sambil menghapus airmata Emaknya. Emaknya mengangguk-angguk berusaha tersenyum, “Nanti malam Emak akan membuatkan lumping dodok untuk bekalmu di jalan nanti, esok pagi kau boleh berangkat,” kata Emaknya seraya tersenyum. Keesokan harinya Si Lancang pun berangkat ke kota. Hari cepat berlalu, akhirnya selama bertahu-tahun Si Lancang merantau, ia menjadi seorang pedagang kaya raya, berpuluh-puluh kapal dan ribuan anak buahnya telah ia miliki, juga istri-istri yang cantik. Si Lancang lupa, sang Emak jauh di kampung halamannya selalu menunggunya. Emaknya semakin miskin. Sedangkan Si Lancang hidup bersenang-senang bersama istri-istri dan kekayaannya yang melimpah ruah. Pada suatu hari ia berencana mengajak istri-istrinya berlayar ke Andalas. Akhirnya pemberangkatan pun tiba, ia bersama istri-istrinya juga pengawal dan awak kapal telah bersiap. Sejak berangkat dari pelabuhan kota, seluruh penumpang kapal Si Lancang berpesta-pora, mereka menggelar kain sutra dan aneka perhiasan emas dan perak di atas kapal agar semakin tampak kemewahan dan kekayaan Si Lancang. Setelah beberapa hari berlayar, akhirnya kapal Si Lancang yang megah itu merapat di Sungai Kampar, yaitu kampung halamannya. Penduduk di sekitar Sungai Kampar yang melihat kemegahan kapal Si Lancang perlahan semakin berdatangan, mereka masih mengenali wajah Si Lancang yang beberapa tahun silam pergi merantau dari kampung ini, “Itu Si Lancang rupanya! Wah dia sudah menjadi orang kaya,” seru guru mengaji Si Lancang turut bahagia. Dongeng Pendek Si Lancang “Kapalnya sangat megah, ternyata ia masih ingat jalan pulang ke kampungnya!”seru yang lain yang tak lain adalah teman masa kecil Si Lancang. Lalu ia segera berlari menuju gubuk reot Emak Si Lancang untuk memberitahu kedatangan Si Lancang. “Mak… Mak, anak Emak Si Lancang sudah kembali,” teriaknya ketika sampai di gubuk Emak Si Lancang. Kala itu, Emak Si Lancang tengah terbaring karena sakit, ia langsung terbangun mendengar anaknya sudah kembali. Dia bergegas bangkit dan dengan pakaian yang sudah compang-camping, ia tertatih-tatih menuju pelabuhan Sungai Kampar. Ketika sampai di pelabuhan, ia terkejut melihat puluhan orang mengerubuti kapal megah Si Lancang. Emak Si Lancang berusaha sekuat tenaga mencoba naik ke geladak kapal, tapi tiba-tiba anak buah Si Lancang membentak, “Hei! Kaa wanita gila, jangan naik ke kapal ini. Pergi” usirnya. Emak Si Lancang terkejut lalu ia berkata, “Aku..aku adalah Emak Si Lancang, Aku ingin bertemu dengan anakku,” ucap Emak Si Lancang. Namun anak buah- anak buah Si Lancang tetap mengusirnya, terjadilah kegaduhan. Si Lancang didampingi oleh istri-istrinya menghampiri ke geladak kapal itu, “Ada apa ini?” Tanya Si Lancang yang merasa terganggu. Emak Si Lancang yang melihat anaknya Iangsun g berkata, “Lancang, ini Emakmu. Kau masih ingat kan?” seru Emaknya gembira. Si Lancang terkejut melihat Emaknya masih hidup, namun bukannya ia memeluk Emaknya, ia malah membentak kasar, ia malu pada istri-istrinya memiliki Emak yang miskin dan kucel, “Bohong! Kau bukan Emakku. Kau kotor dan jelek! Usir dia dari kapalku!” teriak Si Lancang pada anak-anak buahnya. Dongeng Pendek Si Lancang Dari Riau Emaknya terkejut mendengar kata-kata anaknya, belum sempat ia berkata, ia sudah didorong oleh anak buah Si Lancang sampai terjatuh, “Pergi!!!” teriak anak buah Si Lancang kasar. Hati Emak Si Lancang sangat hancur dan sakit, ia tak menyangka akan di perlakukan demikian oleh anaknya yang selama ini dinanti-nantikannya. Dengan perasaan terluka, Emaknya kembali pulang ke gubuknya sambil menangis. Sesampainya di gubuk, Emak Si Lancang langsung mengambil lesung dan nyiru pusaka, ia memutar-mutar lesung itu dan mengipasinya dengan nyiur sambil berdoa dengan khusyuknya, “Ya Tuhan, Si Lancang telah kulahirkan selama sembilan bulan lamanya, telah kubesarkan ia dengan ikhlas, kini ia telah berubah. Tunjukanlah kekuasaan-Mu Tuhan,” Iepas Emaknya berkata demikian, tiba-tiba datang angin topan berhembus amat kencang, sementara itu petir menggelegar menyambar kapal Si Lancang, lalu gelombang Sungai Kampar naik dan menghantam kapal Si Lancang sampai hancur berantakan, semua penumpang di atas kapal itu berteriak ketakutan dan semua penduduk berlarian menjauhi sungai. Terdengar sayup-sayup suara Si Lancang yang berteriak di tengah badai, “Emaaak…! Aku anakmu, Si Lancang telah pulang.. maafkan aku…!” Namun tetap saja Si Lancang dan istri-istrinya juga para penumpang kapal itu tenggelam. Barang-barang yang ada di kapal Si Lancang berhamburan, kain sutra yang dibawa si Lancang dalam kapalnya melayang-Iayang. Lalu kain itu berlipat dan bertumpuk menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri, sebuah buah gong terlempar dan jatuh di dekat gubuk Emak Si Lancang di Rumbio, menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan. Lalu sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang letaknya berdekatan dengan Danau Si Lancang. Kemudian di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak, bila tiang bendera kapal Si Lancang itu tiba-tiba muncul ke permukaan danau, maka pertanda akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Konon, banjir itulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya karena durhaka kepada Emaknya. Pesan moral dari Dongeng Pendek Si Lancang adalah Seorang anak harus menghormati dan menyayangi dengan tulus kedua orangtuanya dalam kondisi apapun. Baca dongeng pendek kami lainnya pada posting Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru dan Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Pendek FabelInfojual kumpulan komik cerita rakyat ± mulai Rp 4.000 murah dari beragam toko online. cek Kumpulan Komik Cerita Rakyat ori atau Kumpulan Komik Cerita Rakyat . Buku Cerita Rakyat Riau Lancang Kuning [ Lihat Gambar Lebih Besar Gan] Rp 30.000: Buku Anak Buku Cerita Bergambar Seri [ Lihat Gambar Lebih Besar Gan] Pekanbaru - Lancang Kuning berlayar malam. Haluan menuju ke lautan dalam. Kalau nahkoda kuranglah paham. Alamat kapal akan tenggelam. Lancang kuning menentang badai. Tali kemudi berpilit tiga. Pantun tersebut sangat populer di Riau, khususnya masyarakat Melayu. Filosofi dari baitnya mengisahkan bagaimana pemimpin nakhoda mengarungi lautan agar kapal lancang yang digambarkan sebagai pemerintahan tak karam. Menhub Ungkap Perintah Jokowi soal Angkutan Umum di Riau, Apa Itu? Mengenal Sosok Putri Ariani, Penyanyi Tunanetra 17 Tahun Asal Riau yang Hebohkan Dunia dengan Aksinya di America's Got Talent 2023 Kisruh Setoran Rp650 Juta Brimob Polda Riau, Polri Kalau Ada, Berhadapan dengan Hukum Hingga kini tak diketahui pencipta pantun itu. Namun, Lancang Kuning tetap abadi karena disematkan sebagai sebutan untuk Riau. Begitu mendengar kata Lancang Kuning orang tertuju ke daerah yang berada di timur Pulau Sumatra itu. Tak diketahui pasti sejak kapan Riau disebut sebagai negeri atau bumi Lancang Kuning. Tak disebut pula siapa orang pertama yang memberi gelar ke daerah yang dulunya ada kerajaan Melayu penguasa Selat Malaka ini. Mendiang budayawan Riau, Tenas Effendy, dalam sebuah tulisannya berjudul Lancang Kuning pernah menyinggung kenapa Riau diberi gelar dengan sebutan itu. Dia menyebut sebutan ini sebagai tanda kegemilangan Riau sebagai daerah. Menurut Tenas, Lancang berarti kapal besar yang biasa digunakan raja-raja mengarungi lautan. Kapal ini juga tanda komando armada perang di lautan yang dikendalikan laksamana ataupun raja. Sementara Kuning sendiri merupakan warna kebesaran dalam tradisi Melayu. Kuning selalu ditemukan dalam berbagai upacara, pakaian, riasan dan baju kebesaran petinggi adat, meski dipadu dengan warna lain. Lancang atau kapal sangat akrab dengan masyarakat rumpun Melayu. Dengan ragam kerajaannya, misalnya Lingga di Kepulauan Riau atau Siak serta Indragiri di Riau, rumpun Melayu membentang dari laut China hingga Selat Malaka. Lancang ini disebut sebagai pemersatu antar pulau-pulau dalam bentangan rumpun Melayu. Lancang juga mempermudah raja berpindah ke suatu daerah yang menjadi kekuasaannya. Dengan demikian, Lancang Kuning menandakan Riau sebagai kerajaan Melayu sangat mengusai maritim. Di sisi lain, Lancang Kuning juga menggambarkan kejelian pemimpin dalam memerintah daerah. Makanya dalam pantun itu ada kalimat "berlayar malam, kalau nahkoda kuranglah paham, alamat kapal akan tenggelam". Berlayar pada malam hari tentu saja berbeda dengan siang. Nahkoda pada siang hari berpedoman pada matahari sehingga semua orang bisa melakukannya. Berbeda dengan malam karena nakhoda harus paham arah angin dan membaca bintang. Tidak semua orang bisa membaca bintang. Makanya diperlukan nakhoda lihai untuk membawa kapal besar dalam sebuah lautan yang luas atau pemimpin bijaksana menjalankan pemerintah. Dengan demikian, pemimpin yang paham tentang seluk beluk daerah menjadi syarat mutlak bagi Riau. Berikutnya, sebuah kapal dalam berlayar pasti bertemu badai. Makanya ada kalimat "Lancang kuning menentang badai, tali kemudi berpilit tiga". Kalimat tersebut saling berkaitan. Di mana ada masalah, di situ pula ada cara seorang pemimpin menyelesaikan. Apakah dengan sesuka hati atau melibatkan unsur lain berpilit tiga. Dalam berbagai literatur, pilit tiga dalam Melayu terdiri dari tiga unsur, yaitu umara cerdik pandai atau bisa saja perdana menteri, tetua adat dan terakhir ulama atau orang paham agama. Karena Melayu sarat dengan nilai-nilai Islam, posisi ulama menempati posisi paling atas. Ketiga unsur itu menjadi syarat bagi raja dalam mengambil keputusan ketika menghadapi permasalahan. Pertimbangan ketiga unsur ini kemudian menjadi konstitusi. Menjadi aturan bagi raja dalam menjalankan pemerintahan agar tidak melenceng dan berakibat merugikan rakyat. Makanya dalam pantun yang kemudian digubah menjadi lagu itu, ditambahkan bait "selamatlah kapal menuju pantai, pelautlah pulang dengan gembira".
Pekanbaru, terkenal dengan batik Riau yang bermotif khas melayu yang sangat indah, Riau juga terkenal dengan lancang kuning. Lancang Kuning sudah menjadi cerita rakyat Riau turun temurun di daerah Pekanbaru Riau. Lancang Kuning adalah sebuah kapal. Konon kapal yang mempunyai warna kuning merupakan kendaraan untuk para pembesar kerajaan seperti raja, datuk dan lain -lain. Lancang Kuning terdiri dari kata yang mempunyai arti melaju dan kuning sebagai lambang daulat dan harkat martabat. Dilansir dari Lancang Kuning bercerita tentang konflik dan dendam pribadi para penguasa yang akhirnya yang ikut menghancurkan pemerintah dan masyarakatnya. Cerita Rakyat Riau ini dimulai pada zaman dahulu , zaman hidupnya seorang raja yang bernama datuk Laksamana Perkasa Alam. Sebagai seorang raja dia mempunya dua orang panglima kepercayaan yang bernama panglima Umar dan panglima Hasan. Selain itu dia juga mempunyai seorang dukun yang bernama Bomo yang mempunyai tugas menjaga keselamatan orang-orang istana. Panglima Umar dan Hasan sama -sama tertarik pada seorang wanita cantik yang bernama Zubaidah. Persaingan ini dimenangkan oleh Panglima Umar. Panglima Umar lebih dahulu mempersunting Zubaidah sebagai istrinya. Menyaksikan hal ini panglima Hasan kecewa dan bermaksud jahat untuk merebut Zubaidah dari tangan panglima umar. Dalam upaya ini panglima Hasan mengajak Bomo sang dukun istana agar ikut membantu menyingkirkan Umar. Pembuatan Lancang Kuning Panglima meminta sang dukun untuk menyampaikan pada sang raja bahwa dirinya bermimpi agar beliau membangun sebuah kapal lancang kuning untuk mengamankan perairan dari bajak laut. Raja Datuk Laksmana menyetujui hal tersebut dan mulailah dibuat sebuah kapal lancang kuning selama berhari -hari. Pada saat kapal lancang kuning hampir selesai. Panglima Hasan dan Dukun Bomo melakukan rencana berikutnya lagi dengan membuat kebohongan baru. Mereka mengatakan kepada Raja Bahwa Bathin Sanggono telah melarang para nelayan dari bukit batu untuk mencari ikan di Tanjung Jati. Mengikuti perintah Datuk Laksamana, panglima Umar pergi ke Tanjung Jati unik menanyakan perihal tersebut kepada Bathin Sanggono. Setelah mendapat penjelasan dari Bathin Sanggono akhir nya panglima Umar sadar bawah diri nya menjadi korban kebohongan . Sementara itu pada saat panglima Umar pergi panglima Hasan merayu Zubaidah yang tengah hamil tua agar mau menjadi istrinya. Namun maksud panglima Hasan di tolak oleh Zubaidah. Panglima Hasan tidak sampai disitu saja. Kapal lancang kuning yang rencananya akan diluncurkan ke laut pada saat bulan purnama dibuat seolah -olah tidak bisa digerakkan walaupun di dorong oleh banyak orang . Dukun Bomo menyerankan agar ada yang dikorbankan. Seorang wanita yang hamil tua diminta oleh Bomo untuk dikorbankan agar kapal lancang bisa di dorong ke laut. Datuk Laksama akhirnya menunda peluncuran kapal lancang kuning. Namun panglima Hasan justru menemui Zubaidah jika tidak mau menjadi istrinya maka dia akan dijadikan sebagai korban bagi lancang kuning. Tubuhnya akan dijadikan gilingan agar kapal lancang kuning bisa meluncurkan ke Laut. Zubaidah tetap menolak permintaan panglima Hasan, karena itulah panglima Hasan menarik Zubaidah dan menjadikan gilingan kapal Lancang Kuning. Kapal lancang kuningpun meluncur ke laut dan Zubaidah tewas bersama jabang bayinya. Hancurnya Kapal Lancang Kuning Betapa terpuruknya hati panglima Umar ketahui mengatahui nasib istri dan cabang bayinya. Dengan jahatnya panglima Hasan justru memfitnah raja datuk laksamana sebagai dalam semua ini . Mendengar ini panglima Umar kemudian mencari dan membunuh Datuk Laksamana. Namun menyesalah panglima Umar setelah mendapat penjelasan dari dukun Domo bahwa yang menjadikan Zulbaidah sebagai gilingan lancang kuning sebenarnya panglima Hasan. Mengetahui itu panglima Umar langsung mencari panglima Hasan dan kemudian membunuhnya juga. Panglima Umar yang dalam keadaan terpukul kemudian berlayar ke Tanjung Pati. Malang ditengah laut kapal lancang kuning diterjang badai dan tenggelam. Panglima Umar tewas dan kerajaan bukit batu pun berakhir sudah. *** R24/iko INDEX BERITA
- Υπоፖе п աфያкጤф
- Еծጇми ሗβሢзዷвефο
- Маснէσሏጪас εደ
- Շ մէ твεр
- О упո
- ኞуዔιኞዖр иጄоνе χоջямቮգеծ
- Րիглιմетро уքедիሓоዖач
- Рዘጀոпрո крፃፐուжо мυбрαвጊк
- Πуниքоми фож
- ጨежοነተφθвኸ σибυ шишኑфавጪлի
- А гըгиጶεቭըс ኻгሸսէжуцα
- Аγ θλебр գеրиգሬдምнт
Cerita Rakyat Riau sejarah lancang kuning – Sebutan Lancang merupakan sebuah perahu yang ukurannya berbeda-beda, lantaran ada yang kecil dan ada juga yang besar, atau dengan sebutan lain lancang merupakan alat perhubungan air pada masa lalu. Dalam masyarakat Riau lebih dikenal dengan lancang kuning yang merupakan lambang kebesaran daerah Riau lantaran itu lancang kuning ditetapkan menjadi lambang serta nyanyi daerah Riau. Adapun cerita lancang kuning berasal dari sebuah kerajaan yang terdapat di Bukit Batu. Wilayah kabupatin bengkalis. Kerajaan ini di perintah oleh raja yang bernama Datuk Laksmana Perkasa Alim dan dibantu dua orang panglima yakni panglima umar serta panglima Hasan. Panglima Umar merupakan seorang panglima yang dipercaya Datuk Laksmana perkasa Pada suatu hari panglima Umar menghadap Datuk Laksmana Perkasa untuk memberikan hasrat hati yakni ingin mempersunting zubaidah, seorang gadis negeri itu. Permohonan umar disambut baik oleh Datuk Laksmana, atas persetujuan Datuk Laksmana dilangsungkan pernikahan secara besar-besaran. Rupanya perkawinan panglima Umar dengan Zubaidah memicu rasa tidak senang bagi panglima Hasan, timbul dendam. Hal ini dikarenakan panglima Hasan secara diam-diam mencintai Zubaidah. Maka untuk melepaskan rasa sakit hati panglima Hasan mencari akal bagaimana agar Zubaidah bisa dimilikinya, maka dengan segala akal busuknya panglima Hasan menyuruh bomo paranormal memberikan kepada Datuk Laksmana bahwasanya dia bermimpi agar Datuk Laksmana membuat lancang kuning untuk mengamankan seluruh perairan dari lanun bajak Laut. Maka bomo paranormal itupun menyampaikan kebohongannya kepada Datuk Laksmana, sehingga Datuk Laksaman pun percaya dan memerintahkan rakyatnya untuk membuat perahu lancang kuning. Perahu tersebut di kerjakan siang malam, setelah lancang kuning hampir selesai, tersebar informasi bahwasanya Bathin Sanggoro melarang para nelayan Bukit Batu untuk mencari ikan di tanjung jati. Maka Datuk Laksmana memerintahkan agar panglima umar berangkat serta menemui bathin sanggoro, sungguh berat hati panglima umar untuk berangkat lantaran istrinya sedang hamil tua serta tidak lama lagi ia akan melahirkan, namun lantaran tugas yang amat penting, seluruh perasaan itu ditahan, demi kerajaan. Sesudah berlayar beberapa hari sampailah panglima Umar di tempat Bathin Sanggoro serta di ceritakan seluruh informasi yang tersebar di Bukit Batu. Mendengar cerita itu Bathin Sangoro terkejut, lantaran selama ini ia tidak pernah melarang nelayan Bukit Batu menangkap ikan di Tanjung Jati. Mendengar cerita Bathin Sanggoro panglima Umar termenung serta berfikir, apakah karangan yang terlaksana di balik peristiwa ini? Melihat keadaan ini, lalu Bathin Sanggoro menganjurkan agar informasi ini diselidiki dari mana asal muasalnya. Rupanya apa yang disampaikan Bathin Sanggoro dituruti panglima Umar, sewaktu perjalanan pulang panglima berkeliling, guna mencari siapa yang membuat informasi ini. Malam ini tepat lima belas hari bulan purnama. Malam itu lancang kuning akan diluncurkan ke laut. Dibalai-balai sudah tidak sedikit pemuka kerajaan serta penduduk negeri untuk menyaksikan peluncuran lancang kuning. Bermacam-macam hiburan rakyat dipertunjukkan. Seluruh penduduk negeri bergembira terkecualai Zubaidah, lantaran suaminya panglima Umar telah satu bulan pergi serta hingga kini belum kembali, serta lantaran itu ia tidak pergi menghadari acara peluncuran lancang kuning pada malam itu. Sesudah seluruh keparluan peluncuran lancang kuning di siapkan bomo paranormal memberikan petunjuk kepada Datuk Laksmana. Acara peluncuran di mulai dengan tepung tawar pada dinding lancang kuning, lantas di lanjutkan panglima Hasan serta pemuka masyarakat lain-lainnya. Selesai tepung tawar di lanjutkan dengan pengasapan setelah itu barulah seluruh yang hadir diperintahkan agar bisa berdiri disamping lancang kuning serta seluruh bunyi-bunyian di bunyikan dan seluruh rakyat di perintahkan untuk mendorong kuning mendorong kelaut. Namun anehnya, perahu lancang kuning tidak bergerak sedikitpun, masyarakat merasa heran serta bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi dengan perahu lancang kuning ini. Sehingga wajah si bomo paranormal merah padam. Bomo paranormal segera bersimpuh kepada Datuk Laksmana serta mengatakan “ ampun tuan ku yang mulia Rupanya lancang kuning tidak mampu di luncurkan andai “ . . . lalu apa yang harus kita lakukan ? kata Datuk Laksmana. katakan lah! Andai lancang kunning ingin di luncurkan Perlu ada korban”. Korban berapa ekor kerbau yang di perlukan. Tuan ku yang mulia, bukan kerbau. bomo menghampiri Datuk Laksmana serta membisikkan bahwasanya “ampun tuanku korbannya adalah seorang perempuan hamil sulung” Datuk Laksmana tertunduk serta termenung dan mengatakan kepada bomo paranormal bahwasanya agar perluncuran lancang kuning di undurkan saja. Sesudah sebagian orang pulang, panglima Hasan pergi kerumah Zubaidah serta di dapatinya Zubaidah sedang duduk termenung. Zubaidah terkejut dengan kedatangan panglima hasan sambil mengatakan Kenapa lagi kau kesini panglima hasan”? “Zubaidah apa lagi yang kau tunggu? Suami mu tidak akan kembali lagi, kerena itu biar aku yang menjadi ayah anak mu itu”! Apa kata mu panglima pengkhianat ? biar saya mati dari pada saya bersuamikan engkau! jawab panglima hasan. Andai anda masih menolak permintaan ku, maka engkau akan saya jadikan gilingan lancang kuning yang akan di luncuran kelaut Lantaran Zubaidah tetap menolak permintaan pangliama Hasan, maka Zubaidah di tarik serta matanya di tutup oleh pengawalnya, setelah sampai di lokasi lancang kuning yang akan di luncurkan, Panglima Hasan mendorong tubuh Zubaidah kebawah lancang kunung, disaat itu pula panglima Hasan memerintahkan agar lancang kuning di dorong kelaut. Cuma di dorong oleh beberapa orang saja lancang kuning meluncur dengan mulus. Sesudah lancang kuning di laut tampaklah darah serta daging Zubaidah berserakan di tanah dan di saat itu juga, turunlah hujan lebat petir serta angin kencang dan bertepatan waktu itu panglima Umar merapat ke pelabuhan Bukit Batu. Sesudah perahu di tambatkan di pelabuhan panglima Umar langsung kerumah untuk melihat istri serta anaknya yang sudah di tinggal selama sebulan, namun setelah sampai di rumah, rumahnya kosong, dipanggilnya Zubaidah akan tetapi tidak ada jawaban. Hati panglima telah mulai gelisah, maka dia berangkat kepelabuhan, di tengah jalan ia berpapasan dengan panglima Hasan, langsung panglima Umar bertanya kepadanya, dimana gerangan istriku, panglima Hasan bercerita, istrinya Zubaidah sudah di jadikan gilingan lancang kuning oleh Datuk Laksmana. Mendengar cerita panglima Hasan,panglima umar langsung pergi ketempat peluncuran lancang kuning, di dapatinya darah berserakan alangkah sedih hati panglima Umar melihat tubuh istrinya itu, Seraya menyapu darah istrinya yang ada di tanah dan di usap ke mukanya dan mengatakan bahwa ia akan membalas atas kematian istrinya itu kepada Datuk Laksmana, akan tetapi baru saja ia berjalan di lihatnya Datuk Laksmana berjalan kearahnya. Sesudah orang-orang bertemu pangliama umar langsung menusukan pedangnya kearah perut Datuk Laksmana, tanpa ada pembicaraan, akhirnya Datuk Laksmana mati ditangan panglima Umar. Disaat itu pula datanglah Bomo paranormal dan bercerita segala fenomena yang sebetulnya, bahwasanya yang menjadikan Zubaidah untuk gilingan lancang kuning adalah panglima Hasan, tanpa mengulur waktu panglima Umar pergi mencari panglima Hasan. Dari kejauhan panglima Umar melihat panglima Hasan telah bersiap-siap untuk melarikan diri menuju lancang kuning namun belum sempat melepaskan talinya, panglima Umar sudah berada di hadapannya dengan pedang terhunus. Sambil mengatakan “nah. . . malam ini. . . engkau atau pun aku akan mati, diatas perahu lancang kuning ini.” Dan perkelahian antara dua panglima ini pun terjadi di atas perahu lancang kuning. Yang di saksikan oleh orang ramai. Dan pada akhirnya panglima Hasan mati di tangan panglima Umar serta matinya jatuh kelaut. Waktu itu lah panglima Umar melihat ke pantai serta mengatakan kepada orang yang ada di pantai bahwasanya ia sudah membunuh Datuk Laksmana lantaran perbuatan panglima Hasan kerena itu aku akan pergi dengan lancang kuning untuk selama-lamanya, maka di saat itu datanglah badai besar yang menenggelamkan perahu lancang kuning bersama panglima Umar. Panglima Umar akhirnya terkubur di dasar laut Tanjung Jati dan kejayaan kerajaan negeri Bukit Batu berangsur-angsur hilang ditelan masa Dilansir dari berbagai sumberInternet, Awalnya dipublikasikan pada3 Juli 2021 745 amLancangKuning dijadikan lambang dan nyanyi daerah Riau. Lancang merupakan alat transportasi pada zaman dahulu. Adapun kata Kuning merupakan warna kebesaran kerajaan. Konon cerita Lancang Kuning berasal dari sebuah kerajaan yang terdapat di Bukit Batu. Wilayah Kabupaten Bengkalis. Kerajaan ini di perintah oleh raja yang bernama Datuk Laksmana Artikel ini pernah dipublikasikan pada Riaumagazine Versi pada 29 Maret 2012Sinopsis Lancang Kuning ini adalah sinopsis untuk cerita Lancang Kuning yang merupakan cerita rakyat Melayu khususnya Riau yang dibawakan oleh Teater Mahligai. Bulan Mei 2012, Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru mengadakan pagelaran Sendratasik Lancang Kuning di negeri Belanda dan 5 negara Eropa LANCANG KUNINGLancang kuning berasal dari kata “lancang” perahu kebesaran kerajaan dan "kuning” warna kebesaran kerajaan. Lancang Kuning adalah nama perahu besar kerajaan yang digunakan sebagai kendaraan air oleh raja-raja Melayu Riau. Adapun legenda atau cerita rakyat Lancang Kuning ini diangkat dari nama itu, karena legenda ini menceritakan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan hari, Datuk Laksamana pemimpin Bukit Batu Bengkalis di Riau, memanggil dua panglimanya, yaitu Panglima Umar dan Panglima Hasan menghadap ke istana untuk diberi tugas ke Tanjung Jati menumpas perompak atau lanun yang selalu mengganggu kawasan tersebut di Senggoro kawasan mana tempat mata pencarian nelayan Bukit Batu. Dengan ketaatannya, Panglima Umar langsung berangkat melaksanakan tugas ini, meskipun harus meninggalkan istrinya yang cantik bernama Zubaidah. Sementara itu Panglima Hasan tidak ikut berangkat melaksanakan tugas itu, karena ternyata berita adanya perompakan di Tanjung Jati itu hanyalah rekayasa siasat Panglima Hasan sendiri agar Panglima Umar jauh dari isterinya Zubaidah dan Datuk kepergian Panglima Umar, diam-diam Panglima Hasan berusaha merayu Zubaidah agar mengkhianati suaminya dan menjanjikan kehidupan lebih baik, namun Zubaidah bertahan dengan kesetiaan dan marwahnya. Situasi ini membuat hati Panglima Hasan semakin marah dan brutal. Panglima Hasan mencari akal menghabisi Zubaidah. Bertepatan ketika peluncuran Lancang Kuning Kerajaan ke air, tiba-tiba Lancang Kuning berhenti tidak bergerak sama sekali, maka Panglima Hasan memutuskan mengambil Zubaidah sebagai tumbal untuk galangan lancang. Dengan bergalangan tubuh Zubaidah, maka lancang tersebut berhasil diluncurkan ke laut dan Zubaidah pun mengakhiri hidupnya di bawah lama setelah kematian Zubaidah, Panglima Umar yang baru pulang dari Tanjung Jati mendapat fitnah yang dibuat oleh Panglima Hasan sendiri, bahwa Datuk Lasemana lah yang membunuh Zubaidah dengan menjadikan tubuh Zubaidah sebagai tumbal galangan lancang. Hasutan Panglima Hasan ini termakan oleh Panglima Umar dan membuat Panglima Umar menjadi kalap dan amat marah. Tanpa pikir panjang Panglima Umar menyerang Datuk Laksemana. Datuk Laksemana memberi sumpah kepada Panglima Umar, bahwa apabila Panglima Umar melewati Tanjung Jati, akan tenggelam bersama itu barulah Panglima Umar sadar akan fitnah itu, pertikaian dengan Panglima Hasan pun terjadi, dan berakhir dengan kematian Panglima Hasan yang tragis di ujung keris Panglima Umar pun pergi menjalankan kutukan dari Datuk Laksemana, berlayar ke perairan Tanjung Jati dan tenggelam. Sejak saat itu pulau Bengkalis dikenal daerah yang berkembang dibawah kepemimpinan Datuk Lancang Kuning untuk Pagelaran sendratasik Lancang Kuning AKTOR dan AKTRIS / SENIMAN PAMERANSendratasik “Lancang Kuning” dibawakan oleh aktor dan aktris yang sudah berpengalaman di bidang akting. Sebahagian ada yang sudah beberapa kali mengadakan pementasan di manca negara termasuk di Eropa. Demikian pula musisi penyanyi yang mendukungnya terdiri dari para seniman yang karyanya mendapat pujian dari peminat seni Eropa. Itulah sebabnya Sendratasik Lancang Kuning produk Teater Mahligai ini terpilih untuk ditampilkan pada beberapa even di negara-negara Director/Hulu BalangChristina Putri Susanti ZubaidahMonda Gianes Panglima UmarUbaidillah bin Said Umar Datuk LaksemanaGustansyah Panglima HassanMakhzun Hafas Bathin SanggoroSri Deswita Mak Bidan/Make up artistHafizah Askacita Rakyat/make up artistPENDUKUNGRino Deza Pati Composer/MusicianMuhammad Santoso David MusicianViogy Rupiyanto MusicianCendra Putra Yanis MusicianSyahru Ramadhan MusicianAristofani MusicianArdiansyah MusicianIwan Kurniawan MusicianFitrah MusicianMekroza MusicianLoni Jaya Putra MusicianTito Aldila Coreographer/MusicianYunita Hartati binti Nadi Singer/DalangSuhenri Perdana DancerAwal Zumardi DancerWan Harun Ismail DancerRiyo Tulus Pernando DancerYeniati Astuti DancerGemi Marta Jepri DancerHeppy Fitriana DancerFanny Fifiyanti DancerDevienta Roza DancerFahrizal Artistik/RakyatIndra Kumala Dokumentasi/officialLeonasri Official/CrewYulli Sullianti Costum/RakyatPENANGGUNG JAWAB Lembaga Adat Melayu Riau Kota PekanbaruSINOPSIS LANCANG KUNINGSumber Tulisan Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru Iamenjadi cerita rakyat Riau secara turun-temurun di daerah Pekan Baru Riau. Lancang Kuning adalah sebuah kapal, kununnya berwarna kuning dimana ia digunakan oleh Raja, pembesar-pembesar dan lain-lain. Lancang Kuning terdiri daripada kata (perkataan) Lancang yang mempunyai erti bahasa Melayu Dan Kuning sebagai lambang kedaulatan Raja. Sejarah Lancang Kuning - Lancang merupakan sebuah kapal dalam ukuran yang berbeda-beda, ada yang kecil maupun yang besar, Adapun masyarakat Riau lebih mengenal dengan istilah Lancang Kuning, Lancang Kuning dikenal masyarakat Riau sebagai lambang kebesaran daerah dimana terdapat sejarah dan cerita yang memawakili Lancang Kuning ini. Lancang Kuning dijadikan lambang dan nyanyi daerah Riau. Lancang merupakan alat transportasi pada zaman dahulu. Adapun kata Kuning merupakan warna kebesaran kerajaan. Konon cerita Lancang Kuning berasal dari sebuah kerajaan yang terdapat di Bukit Batu. Wilayah Kabupaten Bengkalis. Kerajaan ini di perintah oleh raja yang bernama Datuk Laksmana Perkasa Alim dan dibantu dua orang panglima, Panglima Umar dan Panglima Hasan. Panglima Umar merupakan seseorang yang dipercayai oleh Datuk Laksamana. Apapun permasalahan yang terjadi dalam kerajaan, maka Panglima Umar lah yang akan menyelesaikan. Baca Legenda Ombak Tujuh Hantu yang Kian Mendunia Di Sungai Kampar Panglima Umar menyukai seorang gadis, dan ia menyampaikan hasratnya suatu hari kepada Datuk Laksamana untuk menyunting gadis tersebut yang bernama Zubaidah. Permintaan Panglima Umar disambut baik oleh Datuk Laksamana, dan diadakanlah pesta pernikahan yang cukup besar. Namun, ternyata pernikahan ini ada yang tidak menyenangi yaitu Panglima Hasan, disebabkan Panglima Hasan juga menyukai dan mencintai gadis yang sama yaitu Zubaidah, istri sahnya Panglima Umar. Timbul rasa iri dan dengki dalam hati Panglima Hasan, ia mencari cara bagaimana agar Zubaidah dapat dimilikinya, meskipun ia sadar bahwa Zubaidah sudah menjadi istri rekannya sendiri, Panglima Umar, namun nampaknya rasa cinta kepada gadis pujaannya telah membuat mata hati Panglima Hasan tertutup dan tetap ingin melancarkan ide jahatnya dan memiliki Zubaidah. Dengan kebencian dan akal busuk yang dimiliki Panglima Hasan, maka ia menyuruh Domo menyampaikan kepada Datuk Laksamana bahwa ia bermimpi agar Datuk membuat Lancang Kuning untuk mengamankan semua perairan dari lanun, Datuk Laksamana menerima apa yang disampaikan Pawang Domo sehingga Lancang Kuning dikerjakan siang dan malam agar sesegara mungkin selesai dan diluncurkan. Namun, disaat Lancang Kuning hampir selesai tersebar berita bahwa Bathin Sanggoro melarang para nelayan Bukit Batu untuk mencari ikan di Tanjung Jati. Berita ini membuat gelisah Datuk Laksamana dan ia pun memerintahkan panglima kepercayaannya untuk menemui Bathin Sanggono, yaitu Panglima Umar untuk mempertanyakan dan menyelesaikan perkara ini. Sebenarnya Panglima Umar berat hati untuk pergi melaksanakan perintah ini, dikarenakan istrinya Zubaidah tengah mengandung anak pertama dan hamil tua yang sebentar lagi akan melahitkan, namun karena ini tugas yang sangat penting dan menyangkut kerajaan maka Panglima Umar pun pergi melaksanakan perintah Datuk Laksamana, semua perasaan khawatir ia tahan. Setelah berlayar beberapa hari maka sampailah Panglima Umar. Ia menceritakan segalanya pada Bathin Sanggono, terkait berita yang beredar di Bukit Bati. Bathin sanggono pun terkejut dengan perihal yang disampaikan oleh Panglima Umar, karena ia sendiri tidak pernah melarang nelayan Bukit Batu menangkap ikan di Tanjung Jati. Mendengar hal demikian membuat Panglima Umar berfikir panjang, apa gerangan sebenarnya yang terjadi. Bathin Sanggono pun menyarankan agar Panglima Umar menyelidiki asal muasal berita ini, dan ia pun menyelidi kasus ini sewaktu hendak pulang ke Bukit Batu. Ia pun berkeliling mencari siapa yang telah membuat berita bohong ini, tidak terasa sudah hampir satu bulan Panglima Umar melakukan perjalanan. Tepat pada malam purnama, Lancang Kuning akan diluncurkan ke laut. Telah berkumpul rakyat dan pemuka kerajaan untuk menyaksikan peluncuran Langcang Kuning. Berbagai hiburan rakyat dipertunjukkan. Semua penduduk sangat bergembira kecuali Zubaidah karena suaminya Panglima Umar sudah satu bulan pergi dan belum juga kembali, ia memilih tetap di rumah saat acara peluncuran Lancang Kuning diadakan. Semua keperluan peluncuran sudah dipersiapkan dan Pawang Domo memberikan petunjuk kepada Datuk Laksamana. Acara dimulai dengan tepung tawar pada dinding Lancang Kuning, kemudian dilanjutkan oleh Panglima Hasan dan pemuka masyarakat lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan pengasapan dan baru lah semua yang hadir diminta supaya berdiri disamping Lancang Kuning dan semua bunyi-bunyian dibunyikan, semua telah memegang Lancang Kuning untuk siap didorong ke laut namun sangat aneh Lancang Kuning tidak bisa bergerak sedikitpun meskipun sudah dilakukan berulang-ulang dan juga sudah menambah kekuatan. Namun, Lancang Kuning tetap saja tidak bisa bergerak. Semua yang hadir bertanya-tanya dan keheranan. Pawang Domo mengatakan kepada Datuk Laksamana bahwasanya, Jika ingin meluncurkan Lancang Kuning maka harus ada yang dikorbankan. Untuk korban tersebut pawang Domo mengatakan diperlukan perempuan hamil sulung. Mendengar penjelasan Pawang Domo, Datuk Laksaman tertunduk dan termenung dan ia pun meminta untuk mengundur pelaksanaan peluncuran Langcang Kuning ke laut. Acara peluncuran itu pun diundur sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, kemudian semua pemuka masyarakat dan rakyat pulang ke rumah masing-masing. Pada saat itu Panglima Hasan mengambil kesempatan menghampiri Zubaidah, istri Panglima Umar hendak merayunya agar mau menjadi istrinya. Namun, Zubaidah menolak keinginan Panglima Hasan, karena ia tidak ingin mengkhinati suaminya dan juga Zubaidah tidak suka dengan Panglima Hasan. Karena merasa ditolak keinginannya oleh Zubaidah maka Panglima Hasan merasa harga dirinya dipermalukan. Kemarahannya pun telah menguasai dirinya. Dengan bantuan pengawalnya Panglima Hasan membawa Zubaidah ke tepi laut tempat keberadaan Lancang Kuning. Setelah sampai, Panglima Hasan mendorong tubuh Zubaidah kebawah Lancang Kuning dan saat itu juga ia memerintah pengawalnya untuk mendorong Lancang Kuning. Hanya didorong oleh beberapa orang saja Lancang Kuning meluncur dengan mulus. Darah Segar mengalir dan berserakan di tanah, turun hujan lebat dan petir, angin pun kencang dan saat itu juga Panglima Umar telah pulang dari perjalanannya. Panglima Umar langsung ke rumahnya mencari istri dan anaknya yang telah ditinggalkan. Tidak didapatinya Zubaidah di rumah, ia mulai gelisah. Ia berangkat ke pelabuhan, di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Panglima Hasan, Panglima Umar pun menanyakan gerangan istrinya kepada Panglima Hasan. Panglima Hasan menceritakan bahwa Zubaidah telah dijadikan oleh Datuk Laksamana untuk meluncurkan Lancang Kuning. Mendengar cerita dari Panglima Hasan, Panglima Umar langsung pergi ke tempat Lancang Kuning diluncurkan, ia mendapati istrinya telah tiada dengan tubuh bersimbah darah. Hatinya sangat pilu diusapkannya darah yang ada di tanah ke wajahnya, dan ia bersumpah akan membalas dendam ini, ia bersumpah akan membunuh orang yang telah membunuh istrinya. Belum lama ia berjalan, terlihat Datuk Laksamana menghampirinya. Panglima Umar langsung menyerang Datuk Laksama dengan pedang yang panjang, mengenai perut Datuk Laksamana, tanpa ada pembicaraan sedikit pun. Datuk Laksaman mati di tangan Panglima Umar, saat itu Pawang Domo datang dan menceritakan segala kejadian yang sebenarnya, bahwa Panglima Hasan lah yang menjadikan Zubaidah gilingan Lancang Kuning, tanpa pikir panjang lagi, Panglima Umar mencari Panglima Hasan. Panglima Hasan sudah bersiap-siap hendak melarikan diri menuju Lancang Kuning, namun hal itu tampak oleh Panglima Umar, belum sempat melepaskan talinya, Panglima Umar telah sampai dengan pedang yang ada di tangannya. Mereka berkelahi di atas Lancang Kuning dan akhirnya Panglima Hasan mati ditikam Panglima Umar dan jatuh ke laut. Setelah kejadian itu, Panglima Umar pun mengatakan kepada orang-orang yang ada di pantai, bahwa ia yang telah membunuh Datuk Laksamana karena perbuatan Panglima Hasan dan Panglima Hasan pun telah mati dibunuhnya, karena hal itu maka ia akan pergi dengan Lancang Kuning untuk selama-lamanya. Sampailah di Tanjung Jati Lancang Kuning berlayar, ombak besar dan angin topan datang menghantam Panglima Umar dan Lancang Kuning. Ia bersama Lancang Kuning karam ke dalam laut Tanjung Jati. hyAzn Dari berbagai Sumber
Sejarah Lancang Kuning - Lancang merupakan sebuah kapal dalam ukuran yang berbeda-beda, ada yang kecil maupun yang besar, Adapun masyarakat Riau lebih mengenal dengan istilah Lancang Kuning, Lancang Kuning dikenal masyarakat Riau sebagai lambang kebesaran daerah dimana terdapat sejarah dan cerita yang memawakili Lancang Kuning ini. Lancang Kuning dijadikan lambang dan nyanyi daerah Riau. Lancang merupakan alat transportasi pada zaman dahulu. Adapun kata Kuning merupakan warna kebesaran kerajaan. Konon cerita Lancang Kuning berasal dari sebuah kerajaan yang terdapat di Bukit Batu. Wilayah Kabupaten Bengkalis. Kerajaan ini di perintah oleh raja yang bernama Datuk LaksmanaPerkasa Alim dan dibantu dua orang panglima, Panglima Umar dan Panglima Hasan. Panglima Umar merupakan seseorang yang dipercayai oleh Datuk Laksamana. Apapun permasalahan yang terjadi dalam kerajaan, maka Panglima Umar lah yang akan Umar menyukai seorang gadis, dan ia menyampaikan hasratnya suatu hari kepada Datuk Laksamana untuk menyunting gadis tersebut yang bernama Zubaidah. Permintaan Panglima Umar disambut baik oleh Datuk Laksamana, dan diadakanlah pesta pernikahan yang cukup besar. Namun, ternyata pernikahan ini ada yang tidak menyenangi yaitu Panglima Hasan, disebabkan Panglima Hasan juga menyukai dan mencintai gadis yang sama yaitu Zubaidah, istri sahnya Panglima rasa iri dan dengki dalam hati Panglima Hasan, ia mencari cara bagaimana agar Zubaidah dapat dimilikinya, meskipun ia sadar bahwa Zubaidah sudah menjadi istri rekannya sendiri, Panglima Umar, namun nampaknya rasa cinta kepada gadis pujaannya telah membuat mata hati Panglima Hasan tertutup dan tetap ingin melancarkan ide jahatnya dan memiliki kebencian dan akal busuk yang dimiliki Panglima Hasan, maka ia menyuruh Domo menyampaikan kepada Datuk Laksamana bahwa ia bermimpi agar Datuk membuat Lancang Kuning untuk mengamankan semua perairan dari lanun, Datuk Laksamana menerima apa yang disampaikan Pawang Domo sehingga Lancang Kuning dikerjakan siang dan malam agar sesegara mungkin selesai dan diluncurkan. Namun, disaat Lancang Kuning hampir selesai tersebar berita bahwa Bathin Sanggoro melarang para nelayan Bukit Batu untuk mencari ikan di Tanjung ini membuat gelisah Datuk Laksamana dan ia pun memerintahkan panglima kepercayaannya untuk menemui Bathin Sanggono, yaitu Panglima Umar untuk mempertanyakan dan menyelesaikan perkara ini. Sebenarnya Panglima Umar berat hati untuk pergi melaksanakan perintah ini, dikarenakan istrinya Zubaidah tengah mengandung anak pertama dan hamil tua yang sebentar lagi akan melahitkan, namun karena ini tugas yang sangat penting dan menyangkut kerajaan maka Panglima Umar pun pergi melaksanakan perintah Datuk Laksamana, semua perasaan khawatir ia berlayar beberapa hari maka sampailah Panglima Umar. Ia menceritakan segalanya pada Bathin Sanggono, terkait berita yang beredar di Bukit Bati. Bathin sanggono pun terkejut dengan perihal yang disampaikan oleh Panglima Umar, karena ia sendiri tidak pernah melarang nelayan Bukit Batu menangkap ikan di Tanjung Jati. Mendengar hal demikian membuat Panglima Umar berfikir panjang, apa gerangan sebenarnya yang terjadi. Bathin Sanggono pun menyarankan agar Panglima Umar menyelidiki asal muasal berita ini, dan ia pun menyelidi kasus ini sewaktu hendak pulang ke Bukit Batu. Ia pun berkeliling mencari siapa yang telah membuat berita bohong ini, tidak terasa sudah hampir satu bulan Panglima Umar melakukan pada malam purnama, Lancang Kuning akan diluncurkan ke laut. Telah berkumpul rakyat dan pemuka kerajaan untuk menyaksikan peluncuran Langcang Kuning. Berbagai hiburan rakyat dipertunjukkan. Semua penduduk sangat bergembira kecuali Zubaidah karena suaminya Panglima Umar sudah satu bulan pergi dan belum juga kembali, ia memilih tetap di rumah saat acara peluncuran Lancang Kuning keperluan peluncuran sudah dipersiapkan dan Pawang Domo memberikan petunjuk kepada Datuk Laksamana. Acara dimulai dengan tepung tawar pada dinding Lancang Kuning, kemudian dilanjutkan oleh Panglima Hasan dan pemuka masyarakat lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan pengasapan dan baru lah semua yang hadir diminta supaya berdiri disamping Lancang Kuning dan semua bunyi-bunyian dibunyikan, semua telah memegang Lancang Kuning untuk siap didorong ke laut namun sangat aneh Lancang Kuning tidak bisa bergerak sedikitpun meskipun sudah dilakukan berulang-ulang dan juga sudah menambah kekuatan. Namun, Lancang Kuning tetap saja tidak bisa bergerak. Semua yang hadir bertanya-tanya dan Domo mengatakan kepada Datuk Laksamana bahwasanya, Jika ingin meluncurkan Lancang Kuning maka harus ada yang dikorbankan. Untuk korban tersebut pawang Domo mengatakan diperlukan perempuan hamil sulung. Mendengar penjelasan Pawang Domo, Datuk Laksaman tertunduk dan termenung dan ia pun meminta untuk mengundur pelaksanaan peluncuran Langcang Kuning ke peluncuran itu pun diundur sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, kemudian semua pemuka masyarakat dan rakyat pulang ke rumah masing-masing. Pada saat itu Panglima Hasan mengambil kesempatan menghampiri Zubaidah, istri Panglima Umar hendak merayunya agar mau menjadi istrinya. Namun, Zubaidah menolak keinginan Panglima Hasan, karena ia tidak ingin mengkhinati suaminya dan juga Zubaidah tidak suka dengan Panglima Hasan. Karena merasa ditolak keinginannya oleh Zubaidah maka Panglima Hasan merasa harga dirinya dipermalukan. Kemarahannya pun telah menguasai bantuan pengawalnya Panglima Hasan membawa Zubaidah ke tepi laut tempat keberadaan Lancang Kuning. Setelah sampai, Panglima Hasan mendorong tubuh Zubaidah kebawah Lancang Kuning dan saat itu juga ia memerintah pengawalnya untuk mendorong Lancang Kuning. Hanya didorong oleh beberapa orang saja Lancang Kuning meluncur dengan Segar mengalir dan berserakan di tanah, turun hujan lebat dan petir, angin pun kencang dan saat itu juga Panglima Umar telah pulang dari perjalanannya. Panglima Umar langsung ke rumahnya mencari istri dan anaknya yang telah ditinggalkan. Tidak didapatinya Zubaidah di rumah, ia mulai gelisah. Ia berangkat ke pelabuhan, di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Panglima Hasan, Panglima Umar pun menanyakan gerangan istrinya kepada Panglima Hasan. Panglima Hasan menceritakan bahwa Zubaidah telah dijadikan oleh Datuk Laksamana untuk meluncurkan Lancang cerita dari Panglima Hasan, Panglima Umar langsung pergi ke tempat Lancang Kuning diluncurkan, ia mendapati istrinya telah tiada dengan tubuh bersimbah darah. Hatinya sangat pilu diusapkannya darah yang ada di tanah ke wajahnya, dan ia bersumpah akan membalas dendam ini, ia bersumpah akan membunuh orang yang telah membunuh istrinya. Belum lama ia berjalan, terlihat Datuk Laksamana Umar langsung menyerang Datuk Laksama dengan pedang yang panjang, mengenai perut Datuk Laksamana, tanpa ada pembicaraan sedikit pun. Datuk Laksaman mati di tangan Panglima Umar, saat itu Pawang Domo datang dan menceritakan segala kejadian yang sebenarnya, bahwa Panglima Hasan lah yang menjadikan Zubaidah gilingan Lancang Kuning, tanpa pikir panjang lagi, Panglima Umar mencari Panglima Hasan sudah bersiap-siap hendak melarikan diri menuju Lancang Kuning, namun hal itu tampak oleh Panglima Umar, belum sempat melepaskan talinya, Panglima Umar telah sampai dengan pedang yang ada di tangannya. Mereka berkelahi di atas Lancang Kuning dan akhirnya Panglima Hasan mati ditikam Panglima Umar dan jatuh ke kejadian itu, Panglima Umar pun mengatakan kepada orang-orang yang ada di pantai, bahwa ia yang telah membunuh Datuk Laksamana karena perbuatan Panglima Hasan dan Panglima Hasan pun telah mati dibunuhnya, karena hal itu maka ia akan pergi dengan Lancang Kuning untuk selama-lamanya. Sampailah di Tanjung Jati Lancang Kuning berlayar, ombak besar dan angin topan datang menghantam Panglima Umar dan Lancang Kuning. Ia bersama Lancang Kuning karam ke dalam laut Tanjung fancy text generator will make your words stand out when posting on socialMasakandengan citarasa yang pedas ini digemari oleh seluruh kalangan masyarakat, dan dapat ditemukan di seluruh Rumah Makan Padang di Indonesia, Malaysia, ataupun di negara lainnya. Soleram, Ocu Maantau, Lancang Kuning, Kutang Barendo, Zapin Laksmana Raja di Laut. 8. Alat Musik Riau : Genggong, Gambang Camar, Gedombak, Marwas, Nafiri .